SAHLOMM....................."_"

Kasih karunia Tuhan selalu menyertai kita.............JB uss..!!!!!1

SAHLOMM....................."_"

Kasih karunia Tuhan selalu menyertai kita.............JB uss..!!!!!1

Jumat, 24 Juni 2011

supositoria

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN
CAIR DAN SEMISOLID
“SUPPOSITORIA”


Oleh:

Iin Lestari                              101524011
Dewy Citra Br Ginting          101524012
Merna Sipahutar                    101524013
Juni Arnita Siregar                101524014
Nur Hasnah Sari Ritonga      101524015
Rosalinda Lusiana                 101524016
Elida Hafni                             101524017
Dewi Pertiwi                          101524018
Khairul Aman             101524019
Vonna Aulianshah                  101524020


LABORATORIUM TEKNOLOGI
SEDIAAN CAIR DAN SEMISOLID
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
 Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dalam bentuk, yang diberikan melalui rectal,vaginal atau uretra (Depkes R.I.,1995 ).”
Bentuk dan ukurannya harus sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam lubang atau celah yang diinginkan tanpa meninggalkan kejanggalan begitu masuk, har us dapat bertahan untuk suatu waktu tertentu (Ansel,2005).”
Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi:
1.     Suppositori rectal : Suppositorial untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g (Depkes R.I.,1995 ).
2.     Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih   kurang 5,0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai “pessarium” .
( Anonim,1995; Ansel, 2005).”
3.     Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut “bougie”. Bentuknya ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3- 6 mm dengan panjang ± 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya ± 4 gram. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya ½ dari ukuran untuk pria, panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram, bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya ( Ansel, 2005).”
4.      Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga “kerucut telinga”, keduanya berbentuk sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm. suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Namun, suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan (Ansel, 2005).”
Suppositiria rectum umunya dimasukkan dengan jari tangan, biasanya suppositoria rectum panjangnya lebih kurang dari 32 mm (1,5 inci), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. Benruk suppositoria rectum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung pada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk menggunakan basis oleum cacao ( Ansel,2005 ).”
Penggunaan suppositoria bertujuan :
1.     Untuk tujuan lokal seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya. Suppositoria untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum.
2.     Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat
3.     Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hati ( Syamsuni, 2005 ).

1.2   Tujuan Percobaan
  1. Mengetahui bentuk sediaan suppositoria
  2. Mengetahui bahan dasar suppositoria
  3. Mengtahui dan memahami cara pembuatan suppositoria
  4. Mengetahui persyaratan suppositoria
  5. Mengetahui mengevaluasi suppositoria.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat local atau sistematik. Bahan dasar suppositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul dan ester asam lemak polietilen glikol (Depkes R.I., 1995).
Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Bahan dasar yang sering digunakan adalah lemak coklat (Oleum cacao), polietilenglikol atau lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau Gelatin. Bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan lain adalah 3 g untuk orang dewasa dan 2 g untuk anak. Suppositoria supaya disipan dalam wadah tertutup baik dan di tempat yang sejuk. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur, maka suppositoria akan tertarik masuk dengan sendiri. 
Keuntungan penggunaan suppositoria dibanding penggunaan obat per oral atau melalui saluran pencernaan  adalah :
1.      Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung.
2.      Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan
3.     Obat dapat masuk langsung dalam saluradarah dan berakibat obat dapat memberi efek lebih cepat daripada penggunaan obat per oral
4.      Baik, bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar (Anief, 2004)

Tujuan penggunaan suppositoria yaitu :
1.   Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya. Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan seperti pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2.   Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena obat diserap oleh mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi pembuluh darah.
3.   Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hati (Syamsuni, 2005).
Pembuatan suppositoria secara umum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
1.     Bahan dasar yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau larut dalam cairan yang ada dalam rectum. Obatnya supaya larut dalam bahan dasar apabila perlu, dipanaskan. Bila obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus.
2.     Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair, dituangkan dalam cetakan suppositoria dan didinginkan. Cetakan tersebut dibuat dari besi dan dilapisi nikel atau logam lain, ada juga dubuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan suppositoria. Untuk mencetak basila dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas (Anief, 2004).
Isi berat dari suppositoria dapat ditentukan dengan membuat percobaan sebagai berikut:
1.     Menimbang obat untuk sebuah suppositoria
2.     Mencampur obat tersebut dengan sedikit bahan dasar yang telah dilelehkan
3.     Memasukakn campuran tersebut ke dalam cetakan
4.     Mendinginkan cetakan yang berisi campuran tersebut. Setelah dingin suppositoria dikeluarkan dari cetakan dan ditimbang
5.     Berat suppositoria dikurangi berat obatnya merupakan berat bahan dasar yang harus ditimbang
6.     Berat jenis obat dapat dihitung dan dibuat seragam (Anief, 2004).
Untuk menghindari massa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk menghindari massa yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spritus Saponatus (Soft soap liniment). Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang mengandung garam logam, karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat digunakan larutan Oleum Ricini dalam etanol. Untuk suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelican karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakan karena mengkerut (Anief, 2004).
Faktor yang mempegaruhi absorpsi obat per rektal yaitu :
  1. Faktor fisiologis, antara lain pelepasan obat dari basis atau bahan dasar, difusi obat melalui mukosa, deteoksifikasi atau metabolisme, distribusi di cairan jaringan, dan terjadinya ikatan protein di dalam darah atau cairan jaringan.
  2. Faktor fisika kimia obat dan basis antara lain kelarutan obat, kadar obat dalam basis, ukuran partikel, dan basis suppositoria (Syamsuni, 2005). 
Kerugian penggunaan bentuk sediaan suppositoria antara lain:
1.     Tidak menyenangkan penggunaan
2.      Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat per rektal:
1.     Faktor fisiologis antara lain pelepasan uobat dari basis atau bahan dasar, difusi   obat melalui mukosa, detoksifikasi atau metanolisme, distribusi di cairan jaringan dan terjadinya ikatan protein di dalam darah atau cairan jaringan.
2.     Faktor fisika kimia obat dan basis antara lain : kelarutan obat, kadar obat dalam basis, ukuran partikel dan basis supositoria
3.     Bahan dasar yang digunakan untuk membuat suppositoria harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Bahan dasar yang biasa digunakan adalah lemak cokelat (oleum cacao), polietilenglikol (PEG), lemak tengkawang (oleum shorae) atau gelatin (Syamsuni, 2005).
Bahan dasar suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut :
1.     Padat pada suhu kamar sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak, tetapi akan melunak pada suhu rectum dan dapat bercampur dengan cairan tubuh.
2.     Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
3.     Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
4.     Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna, dan bau serta pemisahan obat.
5.     Kadar air mencukupi.
6.     Untuk basis lemak maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus jelas diketahui (Syamsuni, 2007).
Pembuatan suppositoria secara umum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.     Bahan dasar yang digunakan harus meleleh pada suhu tubuh atau larut dalam cairan yang ada di rektum.
2.     Obat harus larut dalam bahan dasar dan bila perlu dipanaskan. Bila sukar larut, obat harus diserbukkan terlebih dahulu sampai halus.
3.     Setelah campurn obat dan bahan dasarnya meleleh atau mencair, campuran itu dituangkan ke dalam cetakan supositoria dan didinginkan. Cetakan ini dibuat dari besi yang dilapisi nikel dan logam lain; ada juga terbuat dari plastik (Syamsuni, 2005).
Sifat suppositoria yang ideal ;
  1. melebur pada suhu tubuh atau melarut dalam cairan tubuh.
  2. tidak toksik dan tidak merangsang
  3. dapat tercampur (kompartibel) dengan bahan obat.
  4. dapat melepas obat dengan segera.
  5. mudah dituang kedalam cetakan dan dapat dengan mudah dilepas dari cetakan.
  6. stabil terhadap pemanasan diatas suhu lebur.
  7. mudah ditangani.
  8. stabil selama penyimpanan.
Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat (oleum cacao) :
1.     Merupakan trigliserida dari asam oleat, asam stearat, asam palmitat; berwarna putih kekuningan; padat, berbau seperti coklat, dan meleleh pada suhu 310-340C.
2.     Karena mudah berbau tengik, harus disimpan dalam wadah atau tempat sejuk, kering, dan terlindung dari cahaya.
3.     Oleum cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya pada pemanasan tinggi. Di atas titik leburnya, oleum cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti Kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali.
a.      Bentuk α (alfa) : terjadi jika lelehan oleum cacao tadi didinginkan dan segera pada 00C dan bentuk ini memiliki titik lebur 240C (menurut literature lain 220C).
b.     Bentuk β (beta) : terjadi jika lelehan oleum cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 180-230C dan bentuk ini memiliki titik lebur 280-310C.
c.      Bentuk β stabil (beta stabil) : terjadi akibat perubahan bentuk secara perlahan-lahan disertai kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 340-350C (menurut literature lain 34,50C).
d.     Bentuk γ (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan oleum cacao yang sudah dingin (200C) dan bentuk ini memiliki titik lebur 180C.
4.     Untuk menghindari bentuk-bentuk Kristal tidak stabil diatas dapat dilakukan dengan cara :
a.      Oleum cacao tidak dilelehkan seluruhnya, cukup 2/3 nya saja yang dilelehkan.
b.     Penambahan sejumlah kecil bentuk Kristal stabil kedalam lelehan oleum cacao untuk mempercepat perubahan bentuk karena tidak stabil menjadi bentuk stabil.
c.      Pembekuan lelehan selama beberapa jam atau beberapa hari.
5.     Lemak coklat merupakan trigliserida, berwarna kekuningan, memiliki bau khas, dan bersifat polimorf (mempunyai banyak bentuk Kristal). Jika dipanaskan, pada suhu 300C akan mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 340-350C, sedangkan pada suhu dibawah 300C berupa massa semipadat. Jika suhu pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti Kristal stabil yang berguna untuk memadat. Jika didinginkan dibawah suhu 150C, akan mengkristal dalam bentuk Kristal metastabil. Agar mendapatkan suppositoria yang stabil, pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang, sehingga tetap mengandung inti Kristal dari bentuk stabil.
6.     Untuk menaikkan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan cera atau cetasium (spermaseti). Penambahan cera flava tidak boleh lebih dari 6% sebab akan menghasilkan campuran yang mempunyai titik lebur diatas 370C dan tidak boleh kurang dari 4% karena akan diperoleh titik lebur < 330C. Jika bahan obat merupakan larutan dalam air, perlu diperhatikan bahwa lemak coklatnya hanya sedikit menyerap air. Oleh karena itu penambahan cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air.
7.     Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat juga digunakan tambahan sedikit kloralhidrat atau fenol, atau minyak atsiri.
8.     Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh karena itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati.
9.     Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat terserap, sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk sediaan rectal karena disolusinya lambat.
10.  Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang dihaluskan kedalam minyak lemak padat pada suhu kamar, dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat kemudian dibiarkan sampai dingin dalam cetakan. Suppositoria ini harus disimpan dalam wadah tertutup baik, pada suhu dibawah 300C.
11.  Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar oleum cacao sebaiknya dihindari karena :
a.      Menyebabkan reaksi antara obat-obatan didalam suppositoria.
b.     Mempercepat tengiknya oleum cacao.
c.      Jika airnya menguap, obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari suppositoria.
12.  Keburukan oleum cacao sebagai bahan dasar suppositoria :
a.      Meleleh pada udara yang panas.
b.     Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama.
c.      Titik leburnya dapat turun atau naik jika ditambahkan bahan tertentu.
d.     Adanya sifat polimorfisme.
e.      Sering bocor (keluar dari rectum karena mencair) selama pemakaian.
f.      Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (Syamsuni, 2007).
Akibat beberapa keburukan oleum cacao tersebut dicari pengganti oleum cacao sebagai bahan dasar suppositoria, yaitu :
1.     Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur.
2.     Campuran setilalkohol dengan oleum amygdalarum dalam perbandingan 17 : 83.
3.     Oleum cacao sintesis : coca buta, supositol (Syamsuni, 2007).
Pada pembuatan suppositoria dengan menggunakan cetakan, volume suppositoria harus tetap, tetapi bobotnya beragam tergantung pada jumlah dan bobot jenis yang dapat diabaikan, misalnya extr. Belladonae, gram alkaloid.
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot lemak coklat yang mempunyai volume yang sama dengan 1 g obat (Syamsuni, 2007).
Nilai tukar lemak coklat untuk 1 g obat, yaitu :
Acidum boricum        :  0,65              Aethylis aminobenzoas          :  0,68
Garam alkaloid           :  0,7                Aminophylinum                     :  0,86
Bismuthi subgallus     :  0,37              Bismuthi subnitras                 :  0,20
Ichtammolum             :  0,72              Sulfonamidum                                    :  0,60
Tanninum                   :  0,68              Zinci oxydum                         :  0,25
Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0,7, kecuali untuk garam bismuth dan zink oksida. Untuk larutan, nilai tukarnya dianggap 1. Jika suppositoria mengandung obat atau zat padat yang banyak pengisian pada cetakan berkurang, dan jika dipenuhi dengan campuran massa, akan diperoleh jumlah obat yang melebihi dosis. Oleh sebab itu, untuk membuat suppositoria yang sesuai dapat dilakukan dengan cara menggunakan perhitungan nilai tukar sebagai berikut (Syamsuni, 2007).








BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
·       Beaker glass
·       Cawan porselin
·       Lumpang dan stamper
·       Spatula
·       Sudip
·       Termometer
·       Batang pengaduk
·       Timbangan gram
·       Timbangan miligram
·       Neraca analitik
·       Kertas perkamen
·       Jarum/kawat
·       Cetakan suppositoria
·       Aluminum foil
·       Lemari pendingin
·       Waterbath

3.1.2 Bahan
·       Benzokain
·       Theophylin
·       Oleum Cacao






 Formulasi

R/        Benzokain  0,500
            Theophylin 0,500
            Dasar Supp q.s
            m.f. supp.dtd   
            s.I dd supp I

Pro : Tn. Jalal

·       Pemilihan dasar suppositoria = Oleum Cacao
·       Berat 1 suppositoria              =  3 gr

3.2. Perhitungan Bahan
Pada percobaan ini satu kelompok terdiri dari 10 orang. Penimbangan dilakukan dengan cara 1 suppositoria untuk tiap anggota kelompok, dan satu orang menimbang dengan penghitungan 3 suppositoria. Jadi total bahan yang akan diambil adalah untuk 12 suppositoria.
a.      Penimbangan Bahan Untuk 1 Suppositoria
Benzocain                                                       :   500 mg
Theophyllin                                                    :   500 mg
Ol. Cacao                                                        q.s.     
:   3000 – (500+500)  
:   2000 mg
Berat total suppositoria                                  :   3000 mg

b.     Penimbangan Bahan Untuk 3 Suppositoria
Benzocain                   : 500 mg x 3                            : 1500 mg
Theophyllin                : 500 mg x 3                            : 1500 mg
Ol. Cacao                    q.s.
: (3 x 3000) – (1500 + 1500)  : 6000 mg

3.3. Cara pembuatan
  1. Seluruh bahan ditimbang.
  2. Gerus homogen benzokain dan theophylin dalam lumpang.
  3. Sediakan air dengan suhu ±400C dalam beaker glass sebagai waterbath buatan.
  4. Larutkan Oleum Cacao yang telah ditimbang di cawan perselen dengan meletakkannya diatas waterbath buatan. Dasar cawan harus mengenai air. Diatur agar suhu dari waterbath tetap ±400C.
  5. Setelah Oleum Cacao melarut sempurna maka tambahkan campuran benzokain dengan theophylin yang telah digerus homogen kedalam cawan, aduk rata dan homogen.
  6. Masukkan semua campuran tersebut kedalam cetakan suppositoria yang telah dilapisi dengan paraffin dengan bantuan jarum/kawat.
  7. Dinginkan dalam lemari pendingin selama 15 menit.

3.4. Evaluasi Suppositoria
3.4.1. Keseragaman Bobot
         Caranya : 1. Timbang 4 suppositoria (A).
                           2. Hitung bobot rata-rata = A/4 = B
                           3. Timbang satu persatu (C)
Syarat    : Penyimpangan beratnya tidak boleh lebih besar dari 5 – 10%
          Rumus penyimpangan : (B-C) / B x 100% = ….%
·       Bobot  4 suppositoria       = 12,042 gram (A)
·       Bobot rata-rata                 = 12,042 gram/4 = 3,01 gram (B)
·       Bobot suppositoria ( C )   = a. 2,933 gram
   b. 2,963 gram
   c. 2,994 gram
   d. 3,00   gram
 Penyimpangan :
(B – C)/B x 100%
    1. (3,01 – 2,933)/3,01 x 100% = 3,203%
    2. (3,01 – 2,963)/3,01 x 100% = 1,56%
    3. (3,01 – 2,994)/3,01 x 100% = 0,53%
    4. (3,01- 3,00)/3,01 x 100%     = 0,033%
Kesimpulan : memenuhi syarat
3.4.2. Penentuan homogenitas
Menggunakan objek glass. Oleskan sediaan suppositoria diatas objek glass, kemudian tutup dengan objek glass lainnya. Amati apakah sediaan tersebut homogen atau tidak.    
Hasil : Homogen ( memenuhi syarat)

3.5.   Pembahasan
Pada percobaan ini dialakukan pembuatan sediaan suppositoria dengan menggunakan dua bahan aktif yaitu benzocain dan theophyllin, dan basis suppositoria yang digunakan adalah oleum cacao. Pada percobaan dibuat suppositoria sebanyak 10 untuk tiap kelompok yang terdiri dari 10 orang. Penimbangan bahan yang dilakukan adalah 1 suppositoria untuk tiap orang dan 3 suppositoria dilakukan hanya pada 1 orang. Jadi bahan yang ditimbang adalah untuk 12 suppositoria.
Kelebihan penimbangan bahan adalah untuk mencukupkan masa suppositoria pada saat pencetakan. Pada pengisian masa suppositoria ke dalam cetakan, lemak coklat cepat membeku, dan pada pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa, maka pada pengisian cetakan harus diisi lebih, baru setelah dingin kelebihannya dipotong (Anief, 2004).
Pada pembuatan suppositoria dikenal dengan adanya istilah nilai tukar untuk pembuatan dengan basis oleum cacao. Nilai tukar dimaksudkan untk mengetahui berat lemak coklat yang mempunyai besar volume yang sama dengan 1 gram obat (Anief, 2004).
Karena itu dalam penimbangan seharusnya tidak dilakukan satu persatu, tapi dihitung nilai tukar zat aktif untuk mencari kebutuhan oleum cacao yang diperlukan.




BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
  • Suppositoria yang dibuat berbentuk peluru.
  • Bahan dasar suppositoria yang digunakan adalah oleum Cacao
  • Suppositoria memenuhi persyaratan evaluasi keseragaman bobot dimana tidak ada satu suppositoria pun yang penyimpangannya lebih dari 10%.
  • Suppositoria memenuhi persyaratan uji homogenitas.

4.2. Saran
  • Praktikan hendaknya mengetahui prosedur kerja dari percobaan.
  • Praktikan hendaknya melakukan prosedur percobaan dengan baik agar diperoleh hasil yang baik.


















DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh, (2004), Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ansel, (2005), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta.
Depkes R.I. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.
Syamsuni, H.A. (2005). Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Penerbit Kedokteran : Jakarta.
Syamsuni, H.A. (2007). Ilmu Resep. Jakarta : EGC.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar